Setara Institute Kuantitas Standard Demokrasi Pilpres lalu Pemilihan Kepala Daerah 2024 Rendah

JAKARTA – Setara Institute menilai kualitas sekaligus dinamika proses mendekati hingga penyelenggaraan Pilpres juga Pemilihan Kepala Daerah 2024 cukup rendah. Penilaian ini berdasarkan Ukuran HAM 2024, Distraksi Hak Asasi di tempat Rezim Transisi yang tersebut dikeluarkan Setara Institute.
Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menuturkan rendahnya kualitas demokrasi ketika ini ditandai partisipasi pemilihan Serentak 2024 tidaklah menyentuh 70%, sarana prasarana pemilihan umum yang dimaksud tak inklusif, hingga representasi perempuan pada kursi parlemen maupun kontestasi kepala daerah.
“Hal inilah yang dimaksud menjadi alasan pada balik menurunnya -0,1 pada skor hak turut dan juga di pemerintahan menjadi 3,1,” kata Halili sebagaimana siaran pers yang tersebut diterima, Selasa (10/12/2024).
Dalam tabel perbandingan skor Angka HAM periode I (2014-2019), 2023, kemudian tahun 2024 dinyatakan skor hak sipil kemudian kebijakan pemerintah sebagai berikut 3,0 (periode I), 3,0 (tahun 2023), dan juga 2,9 (tahun 2024).
Dengan menurunnya hak sipil kemudian kebijakan pemerintah pada tahun 2024, Setara Insititute merekomendasikan Presiden Prabowo Subianto untuk memverifikasi penghormatan terhadap kebebasan berekspresi kemudian berpendapat oleh masyarakat, jurnalis, maupun insan akademis.
Kemudian, menjamin ruang civic tanpa intervensi. “Termasuk juga teristimewa memulihkan lingkungan urusan politik demokratis yang tersebut patuh pada prinsip rule of law kemudian standar-standar etik demokrasi,” ujar Halili.
Diketahui, Ukuran HAM 2024 ini merupakan studi pengukuran kinerja negara sebagai pemangku kewajiban (duty bearer) pada perlindungan, pemajuan, penegakan, kemudian pemenuhan HAM dalam Indonesia.
Indeks HAM disusun dengan mengacu pada rumpun-rumpun hak yang digunakan terdapat di Kovenan Internasional Hak Sipil juga Politik serta Kovenan Internasional Hak Sipil lalu Politik serta Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, dengan menetapkan 6 indikator pada variabel hak sipil serta kebijakan pemerintah juga 5 indikator pada variabel hak ekonomi, sosial, budaya yang digunakan selanjutnya diturunkan ke di 50 sub indikator.
Penilaian dilaksanakan menggunakan skala Likert dengan rentang 1-7 yang tersebut menggambarkan nilai 1 sebagai perlindungan, penghormatan, lalu pemenuhan HAM yang tersebut paling buruk. Lalu, bilangan 7 menunjukkan upaya komitmen pemajuan HAM yang mana paling baik.
Penilaian ini menggunakan triangulasi sumber lalu expert judgment sebagai instrumen justifikasi temuan studi.






