Dino: Dengan cita-cita Hasjim Djalal, RI teruskan inisiatif hukum laut

Ibukota Indonesia – Sebagai salah satu arsitek Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, Indonesia harus terus menjadi pemimpin inisiatif pada perjuangan diplomasi terkait hukum laut internasional, kata mantan duta menteri luar negeri RI Dino Patti Djalal.
“Indonesia harus terus menjadi pelopor, penggerak, dan juga pemimpin pada diplomasi hukum internasional,” kata Dino pada sambutannya mewakili keluarga Hasjim Djalal via daring di rencana peringatan keras partisipasi lalu pemikiran Hasjim Djalal di dalam Kementerian Luar Negeri Jakarta, Selasa.
Warisan perjuangan yang mana ditinggalkan ayahandanya di bidang hukum laut internasional, khususnya melalui UNCLOS 1982, berhasil menunjukkan tempat Indonesia sebagai pendobrak kemudian pemimpin yang disegani, kata Dino.
Dino melanjutkan, Hasjim Djalal mempunyai cita-cita luhur untuk memperjuangkan Indonesia supaya menjadi negara maritim yang dimaksud kuat, lalu UNCLOS 1982 yang dimaksud dicetuskannya menyebabkan dunia mengakui konsep negara kepulauan, yang tersebut merupakan ciri khas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana dengan modal yang dimaksud kita bisa jadi menjadi bangsa maritim yang digunakan punya perkapalan kuat, angkatan laut yang digunakan kuat, dan juga bisa saja menguasai dengan nyata nilai-nilai sektor ekonomi di area laut kita,” kata pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu.
Ia kemudian menyoroti inisiatif Hasjim Djalal pada menyelenggarakan lokakarya terkait Laut China Selatan lebih banyak dari 30 tahun lalu telah dilakukan memberi dasar bagi proses diplomasi untuk menyelesaikan sengketa di tempat kawasan.
Dino pun menggalakkan supaya Indonesia terus memperjuangkan terwujudnya kesepakatan lokakarya yang dimaksud pada bentuk kerja identik substansial di tempat Laut China Selatan.
Mantan duta besar RI untuk Amerika Serikat itu juga meminta diplomat Indonesia agar terus memperjuangkan kepentingan nasional dengan tetap memperlihatkan memperhatikan kebermanfaatannya di dalam tingkat global, sebagaimana yang mana dicontohkan Hasjim Djalal melalui “perpaduan antara nasionalisme, multilateralisme, dan juga globalisme.”
Lahir pada 1934, Hasjim Djalal adalah diplomat senior Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1981—1983, kemudian Kanada pada 1983—1985, serta untuk Jerman pada periode 1990—1993.
Hasjim adalah salah satu diplomat Indonesia yang digunakan berperan di penyusunan UNCLOS 1982 lalu berjasa memperjuangkan gagasan negara kepulauan dan juga wawasan nusantara, sebagaimana diamanatkan Deklarasi Djuanda 1957, supaya diakui komunitas internasional.
Hasjim Djalal wafat pada 12 Januari 2025 serta dimakamkan pada Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Ibukota Selatan, di upacara pemakaman yang tersebut dipimpin Menlu RI Sugiono.






