130 Contoh Peribahasa Negara Indonesia dan juga Artinya yang Penuh Makna

Jakarta – Peribahasa merupakan salah satu kekayaan bahasa Nusantara yang tersebut digunakan untuk menyampaikan arahan secara bijaksana lalu tersirat. Dalam hidup sehari-hari, peribahasa kerap digunakan sebagai nasihat atau petuah. Berikut adalah contoh peribahasa Tanah Air dan juga artinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi atau KBBI, peribahasa didefinisikan sebagai kelompok kata atau kalimat yang permanen susunannya kemudian mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan). Daya tarik peribahasa terletak pada isinya yang tersebut ringkas kemudian padat, juga penyelenggaraan persajakan, ironi, metafora, serta perbandingan.
Contoh Peribahasa lalu Artinya
Ada beratus-ratus contoh peribahasa Tanah Air yang mana hingga saat ini masih banyak digunakan kemudian dipelajari, baik di dalam lingkungan sekolah maupun di keluarga. Berikut beberapa diantaranya:
- Ada air ada ikan: Dimanapun kita tinggal, rezeki akan setiap saat ada.
- Ada asap ada api: Tak dapat dipisahkan, munculnya suatu kejadian / kesulitan pasti ada penyebabnya.
- Ada gula ada semut: Dimana banyak kesenangan disitulah berbagai pemukim datang.
- Ada nilai tukar ada rupa: Harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.
- Ada udang di dalam balik batu: Ada suatu maksud yang mana tersembunyi.
- Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam: Orang muda harus bersabar, pada meraih cita-cita.
- Air beriak tanda tak dalam: Orang yang tersebut sejumlah bicara biasanya tiada berbagai ilmunya.
- Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam: Tidak enak makan serta minum (biasanya oleh sebab itu terlalu bersedih/duka).
- Air susu dibalas dengan air tuba: Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan jahat.
- Air tenang menghanyutkan: Orang yang tersebut kelihatannya pendiam, namun ternyata sejumlah menyimpan ilmu pengetahuan di pikirannya.
- Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam: rahasia itu tidak ada selamanya dapat disembunyikan, suatu waktu akan terbuka pula.
- Bagai musang berbulu ayam: Orang jahat bertingkah laku sebagai warga baik.
- Bagai pungguk merindukan bulan: Seseorang yang digunakan membayangkan atau menghayalkan sesuatu yang mana bukan mungkin.
- Bagaimana bunyi gendang begitulah tarinya: sesuatu itu harus dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya.
- Bahasa menunjukkan bangsa: baik atau buruknya tabiat kemudian sifat seseorang dapat dilihat dari tutur kata (bahasa)-nya.
- Bak bergendang ke Sirukam, perut kenyang emas dapat: diperintahkan untuk mencari ilmu kemudian juga diberi upah untuk itu.
- Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi: Orang yang digunakan tidaklah mampu menolak bahaya yang menimpanya.
- Bagaikan burung dalam di sangkar: Seseorang yang mana merasa hidupnya dikekang.
- Bak ilmu padi, kian berisi kian runduk: Makin berilmu tak sombong.
- Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya: Bermaksud mencelakakan pemukim lain, tetapi dirinya juga mengambil bagian terkena celaka.
- Belum beranak telah ditimang: Belum berhasil, tetapi sudah ada bersenang-senang lebih tinggi dulu.
- Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi: Belajarlah sungguh-sungguh jangan tanggung-tanggung(ragu-ragu).
- Bermain air basah,bermain api hangus: Setiap pekerjaan atau bidang usaha ada susahnya.
- Bagai anak sepat ke tohor: Bermalas-malasan pada tempat khalayak lain.
- Bagai ayam bertelur dalam padi: Seseorang yang digunakan mencintai hidup mewah.
- Bagai ayam dibawa ke lampuk: Seseorang yang mana terheran-heran.
- Bagai ayam lepas bertaji: Serba berbahaya.
- Besar pasak daripada tiang: Besar pengeluaran daripada pendapatan.
- Bagai galah dalam berada dalam arus: terus-menerus berkeluh kesah oleh sebab itu mendapatkan kemalangan (kesusahan).
- Bagai galah dijual: sudah ada habis binasa harta kekayaannya.
- Bagai garam jatuh ke laut: nasihat (saran) yang sederhana diterima penduduk lain.
- Bagai itik pulang petang: amat lambat perjalanannya.
- Cepat kaki ringan tangan: Suka menolong sesama umat.
- Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di dalam hulu tanda akan hujan: Sesuatu pasti akan ada identitas atau tanda khususnya.
- Dalam lautan dapat diduga, di hati siapa tahu: Kita bukan mengetahui isi hati penduduk lain.
- Daripada hidup bercermin bangkai, tambahan baik mati berkalang tanah: Daripada hidup menanggung malu tambahan baik mati.
- Daripada hidup berputih mata, lebih besar baik tertutup berputih tulang: Lebih baik terhenti daripada menanggung malu.
- Daripada hujan emas ke negeri orang, lebih tinggi baik hujan batu dalam negeri sendiri: Sebaik-baik negeri penduduk tak sebaik di negeri sendiri.
- Datang tampak muka, pulang tampak punggung: Datang serta pergi hendaklah memberi tahu.
- Di mana bumi dipijak, dalam situ langit dijunjung: Kita harus menyesuaikan diri dengan adat lalu keadaan tempat tinggal yang tersebut kita tempati.
- Digenggam takut mati, dilepas takut terbang: Serba salah sama-sama merugikan.
- Duduk identik rendah, tegak sebanding tinggi: mirip kedudukannya (tingkatannya atau martabatnya).
- Dagangan bersambut yang tersebut beliau jual: Menceritakan cerita berdasarkan cerita dari penduduk lain.
- Dahan pembaji batang: Orang kepercayaan yang menyalahgunakan harta benda tuannya.
- Dahulu bajak daripada jawi: Orang muda yang tersebut belum mempunyai pengalaman dijadikan pemimpin warga tua yang dimaksud berpengalaman.
- Dahulu duduk dari cangkung: Cepat sekali marah sebelum mengetahui perkara sebenarnya.
- Di laut boleh diajak, di hati siapa tahu: Apa yang mana tersembunyi di hati seseorang tak dapat diketahui.
- Elok basa akan kekal hidup, elok budi akan bekal mati: Orang yang dimaksud baik budi balasannya akan disayang penduduk selama hidup lalu setelahnya berakhir pun akan dikenang orang.
- Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan: Sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu.
- Esa hilang, dua terbilang: Berusaha terus dengan keras hati hingga maksud tercapai.
- Gajah ke pelupuk mata tak tampak, semut dalam seberang lautan tampak: Kesalahan/aib sendiri yang digunakan besar bukan tampak.
- Gigi dengan lidah ada kalanya bergigit juga: Walau persahabatan sangat akrab ada kalanya berselisih juga.
- Guru kencing berdiri, murid kencing berlari: Kelakuan penduduk bawahan terus-menerus mencontoh kelakuan atasannya.
- Habis manis sepah dibuang: Sesudah tidaklah berguna lagi berikutnya dibuang / tidaklah dipedulikan lagi.
- Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua: Budi pekerti, amal kebaikan, akan terus-menerus dikenang walaupun seseorang sudah ada meninggal dunia.
- Harapkan guntur di langit, air dalam tempayan dicurahkan: Mengharapkan sesuatu yang belum tentu, barang yang tersebut sudah ada ada dilepaskan.
- Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai:Keinginan atau cita-cita yang tersebut mustahil dapat dicapai.
- Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai: Orang yang dimaksud hidup hemat akan berubah menjadi kaya, warga yang tersebut rajin belajar akan menjadi pandai.
- Hidup dikandung adat, terhenti dikandung tanah: Selama hidup khalayak harus taat terhadap adat kebiasaan pada masyarakat.
- Hujan emas ke negeri orang, hujan batu dinegeri sendiri, baik juga dalam negeri sendiri: Betapa senang kemudian bahagi di dalam perantauan, tentu lebih banyak senang serta bahagia dalam negeri sendiri.
- Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia: Hal yang tersebut sudah ada pasti, kerjakanlah dengan sabar bukan perlu tergesa-gesa.
- Jauh ke mata dekat di hati: Dua pendatang yang permanen merasa dekat meskipun tinggal berjauhan.
- Kalah jadi abu menang jadi arang: pertengkaran/permusuhan akan merugikan kedua belah pihak (sama-sama merugi).
- Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih banyak baik ditampar betul-betul: Setiap perbuatan jahat itu serupa sekadar akibatnya, walaupun besar ataupun kecil.
- Karena nila setitik, rusak susu sebelanga: Karena kejahatan atau kesalahan yang tersebut kecil, hilang kebaikan yang dimaksud sudah pernah diperbuat.
- Katak hendak jadi lembu: Orang hina/miskin/rendah hendak menyamai khalayak besar/kaya; congkak; sombong.
- Kecil-kecil cabai rawit: Kecil, tetapi cerdik/pemberani /membahayakan.
- Kepala identik berbulu, pendapat berlain-lainan: Setiap pemukim berbeda pendapatnya.
- Lain dalam mulut lain di hati: Yang dikatakan / diucapkan berbeda dengan isi hatinya.
- Lain dulang lain kaki,lain pemukim lain hati: Setiap pemukim punya pendapat, kehendak serta perasaan yang berbeda.
- Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya: Tiap-tiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya.
- Lancar kaji akibat diulang, pasah jalan dikarenakan diturut: Segala sesuatu harus diwujudkan berulang ulang supaya paham.
- Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan: Perundingan yang mana baik jangan disia-siakan, tetapi hendaknya dipikirkan secara dalam-dalam.
- Lempar batu sembunyi tangan: Melakukan sesuatu, kemudian berdiam diri seolah-olah tidaklah tahu menahu.
- Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya: Lepas dari bahaya yang digunakan besar, jatuh ke di bahaya yang tersebut tambahan besar lagi.
- Lidah tak bertulang; Mudah cuma mengungkapkan / menjanjikan sesuatu, yang digunakan berat adalah melaksanakannya.
- Lubuk akal tepian ilmu: Seseorang yang mana dikenal mempunyai banyak ilmu pengetahuan.
- Luka sudah ada hilang parut tinggal juga: Setiap perselisihan setiap saat meninggalkan bekas di hati pendatang yang tersebut berselisih, bagaimanapun juga perselisihan itu telah berakhir.
- Menambak gunung, menggarami air laut: Memberi bantuan terhadap pemukim yang mirip sekali tidak ada diperlukan dibantu.
- Menepuk air ke dulang, tepecik muka sendiri: Jika berbuat sesuatu yang dimaksud jahat maka akan terkena kembali terhadap diri sendiri.
- Makan hati berulam rasa: Menderita sebab perbuatan pemukim yang mana kita sayang.
- Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih: Segala sesuatu dalam
- kehidupan tidak manusia yang tersebut menentukan.
- Malu bertanya sesat di dalam jalan : Kalau bukan mau berikhtiar tak akan mendapat kemajuan.
- Membagi identik adil, memotong sejenis panjang: Jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil juga tak berat sebelah.
- Membelah dada mengamati hati : Ungkapan untuk menyatakan kesungguhan.
- Menang jadi arang, kalah jadi abu : Kalah ataupun menang sama-sama menderita.
- Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja: Menantikan bantuan dari warga yang digunakan tidaklah dapat memberikan bantuan.
- Menggantang asap: Melakukan perbuatan yang digunakan sia-sia.
- Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata: Segala pekerjaan harus direalisasikan menurut tata cara aturannya masing-masing.
- Menohok teman seiring di lipatan: Mencelakakan teman sendiri.
- Murah pada mulut, mahal di timbangan: Mudah sekali berjanji tetapi tak pernah menepati.
- Musang berbulu ayam: Orang jahat bersikap seperti pendatang baik.
- Musuh di selimut: Musuh di kalangan / lingkungan sendiri.
- Nasi sudah ada berubah menjadi bubur: Sudah terlanjur, tidaklah dapat diperbaiki atau diubah lagi.
- Nasi tak dingin, pinggan tak retak: Orang terus-menerus mengerjakan sesuatu dengan hati-hati.
- Orang mau seribu daya, bukanlah seribu dali: Jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, apabila tidak ada menghendaki, pasti mencari alasan.
- Ombak kecil jangan diabaikan: Persoalan kecil jangan dianggap enteng.
- Panas tahunan hilang oleh hujan sehari: Segala kebaikan terhapus oleh belaka sedikit keburukan atau kesalahan.
- Pandai berminyak air: Pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya.
- Pangsa menunjukkan bangsa, umpama durian: Kita sanggup mengamati perangai seseorang melalui tutur katanya.
- Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan: Kebaikan hati yang sanggup dilihat dari tingkah lakunya.
- Sakit identik mengaduh, luka mirip mengeluh: Seiya sekata pada semua keadaan.
- Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul: Seberat apapun penderitaan pemukim yang digunakan melihat, masih lebih lanjut menderita penduduk yang mengalaminya.
- Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan: Berpikir baik-baik sebelum melakukan agar tak kecewa.
- Sehari selembar benar, setiap tahun selembar kain: Suatu pekerjaan yang mana diwujudkan dengan keyakinan juga kesabaran akan membuahkan hasil yang mana baik.
- Sekali air pasang, sekali tepian beranjak, Sekali air di dalam dalam, sekali pasir berubah: Setiap terjadi pembaharuan pimpinannya, berubah pula aturannya.
- Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera: Bagaimanapun bodohnya seseorang, jikalau sekali tertipu, tak akan mau tertipu lagi untuk kedua kalinya.
- Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui: Sekali melakukan pekerjaan, beberapa maksud tercapai. Seludang menolak mayang: Sebutan untuk khalayak sombong dan juga melupakan khalayak lain yang digunakan telah dilakukan berjasa di hidupnya.
- Seorang makan cempedak, semua kena getahnya: pribadi berbuat salah, semua dianggap salah juga.
- Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga: Sepandai-pandainya manusia, suatu ketika pasti pernah melakukan kesalahan juga.
- Seperti cacing kepanasan: Tidak tenang, setiap saat gelisah.
- Seperti durian dengan mentimun: Orang lemah / miskin / bodoh berhadapan dengan pendatang kuat / kaya / pandai.
- Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat: Berwajah rupawan namun perilakunya jahat.
- Serigala berbulu domba: Orang yang tersebut kelihatannya bodoh serta penurut tetapi sebenarnya kejam, jahat, lalu curang.
- Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak ada berguna: Pikir dahulu masak-masak sebelum berbuat sesuatu (pikirkan untung kemudian ruginya).
- Setali tiga uang: Sama saja, tidaklah ada bedanya.
- Tahu asam garamnya: Tahu seluk beluknya/berpengalaman.
- Tak ada gading yang tersebut tak retak: Tidak ada sesuatu yang mana tiada ada cacatnya.
- Tambah air tambah sagu: Tambah banyak permintaannya, bertambah pula biayanya. Bila bertambah anak, akan bertambah pula rezekinya.
- Tangan merentang bahu memikul: Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.
- Terbuat dari emas sekalipun, sangkar permanen sangkar juga: Meskipun hidup pada kemewahan tetapi terkekang, hati kekal merasa tersiksa juga.
- Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting: Segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik.
- Tertangguk pada ikan sejenis menguntungkan, tertanggung pada rangsang sebanding mengiraikan: Suka juga duka dijalani bersama. Manfaat yang mana didapatkan dinikmati bersama-sama, kesusahan yang mana dialami diatasi bersama-sama juga.
- Tiada rotan akar pun jadi: Kalau tidaklah ada yang dimaksud baik, yang tersebut kurang baik pun boleh juga.
- Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi: Orang tua yang tersebut bersikap seperti anak muda, teristimewa pada kesulitan percintaan.
- Umur setahun jagung: Belum berpengalaman.
- Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas: Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di dalam bawah kemudian kadang di atas.
- Yang buta peniup lesung, yang tersebut peka pelepas bedil: Masing-masing ada faedahnya, selama diletakkan pada tempatnya.
- Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri: Belajar untuk mengendalikan diri serta meninggalkan kebiasaan bersenang-senang.
- Tong kosong nyaring bunyinya: Orang yang bodoh biasanya banyaknya cakapnya/ pembicaraannya.
- Tong penuh tidaklah berguncang, tong setengah yang digunakan berguncang: Orang yang tersebut berilmu bukan akan berbagai bicara, tetapi penduduk bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu sejumlah hal.
Pilihan Editor: Menawarkan Kursus Belajar secara Terstruktur, Apa Itu YouTube Course?
Artikel ini disadur dari 130 Contoh Peribahasa Indonesia dan Artinya yang Penuh Makna






