Terence Crawford Tantang Canelo Alvarez Dituding Sekadar Cari Uang Pensiun

Terence Crawford berada dalam bersiap menghadapi tantangan terbesar di kariernya. Petinju berusia 37 tahun itu akan naik dua divisi untuk menghadapi juara kelas menengah super, Canelo Alvarez, pada 13 September 2025. Namun, tindakan ini menuai sejumlah kritik, teristimewa terkait dengan bobot tubuhnya yang pada waktu ini mencapai 186 pon (84 kg), sangat jauh di tempat menghadapi batas kelas 168 pon (76 kg) yang mana akan ia tempati pada duel nanti.
Crawford, yang digunakan biasanya bertarung dalam kelas welter (147 pon/66 kg), akan menghadapi tantangan fisik besar. Jika ia masih di dalam berat 186 pon, kecepatannya akan berkurang drastis, membuatnya mudah menjadi sasaran empuk bagi Canelo . Di sisi lain, menurunkan berat badan secara ekstrem pada waktu singkat juga dapat menghurangi kekuatan lalu daya tahannya.
Tanpa persiapan yang tersebut matang, pertarungan ini dapat menjadi mimpi buruk bagi Crawford. Sejumlah analis tinju menilai bahwa tanpa pengalaman pada kelas menengah super, ia akan kesulitan menghadapi Canelo yang tersebut terbiasa bertarung di area level lebih banyak tinggi. Bahkan, mantan juara dunia Keith Thurman menegaskan bahwa Crawford harus menjalani latihan khusus pada dataran tinggi serta meningkatkan daya tahannya apabila ingin memiliki potensi menang.
Satu hal yang digunakan menjadi sorotan adalah kebijakan Crawford untuk tiada mengambil laga pemanasan sebelum menghadapi Canelo. Hal ini mengakibatkan ramalan bahwa ia tambahan mementingkan keamanan rekor lalu pembayaran besar daripada membuktikan kemampuannya di tempat kelas baru. Dalam laga terakhirnya di dalam kelas 154 pon melawan Israil Madrimov, Crawford hampir kalah, yang semakin meningkatkan kekuatan keraguan terhadap kemampuannya di area kelas yang lebih besar berat.
Beberapa pihak bahkan membandingkan duel ini dengan pertarungan kontroversial yang dimaksud dipromosikan Turki Al-Sheikh, seperti laga Francis Ngannou melawan Tyson Fury serta Anthony Joshua. Dalam skenario ini, Crawford dianggap tak layak untuk dengan segera menantang Canelo tanpa membuktikan dirinya tambahan dulu pada kelas 168 pon.
Terlepas dari kritik yang digunakan ada, pertarungan ini tetap saja menarik perhatian besar. Jika Crawford menang, ia akan menorehkan sejarah sebagai petinju yang tersebut sukses menaklukkan Canelo pada usia senja. Namun, apabila ia kalah telak, berbagai yang dimaksud akan mengamati ini sebagai duel yang digunakan belaka menguntungkan satu pihak: Crawford yang mendapatkan bayaran besar sebelum pensiun.
Sebagian pengamat tinju menilai bahwa jikalau Turki Al-Sheikh benar-benar ingin menyebabkan laga ini lebih tinggi kompetitif, ia seharusnya mengajukan permohonan Crawford untuk menghadapi satu atau dua petinju top dalam kelas 168 lebih tinggi dulu. Namun, hal itu tidak ada terjadi, yang digunakan semakin menguatkan ramalan bahwa laga ini lebih besar bertujuan untuk memberikan ‘hadiah pensiun’ bagi Crawford.
Apakah Crawford benar-benar dapat mengalahkan Canelo, atau ini hanya sekali laga besar yang dimaksud sekadar menjadi tontonan? Jawabannya akan terungkap pada 13 September nanti.






