Deputi BKPM: Kuatkan solidaritas ASEAN demi cegah kolonialisme baru

DKI Jakarta – Deputi Area Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Sinkronisasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan menegaskan pentingnya solidaritas kemudian semangat ASEAN pada menghadapi tantangan dunia usaha bersatu kemudian menghindari kolonialisme baru.
Ichwan menyampaikan bahwa kolonialisme baru tersebut muncul di mana negara-negara maju berupaya mengeksploitasi sumber daya yang tersebut dimiliki kawasan-kawasan mengalami perkembangan seperti kawasan Asia Tenggara dengan teknologi baru.
“Kalau kita tak menguasai teknologi, sumber daya alam kita miliki dapat dikuasai oleh mereka itu yang tersebut mengendalikan teknologi untuk ‘menguasai dunia’ dengan nilai tambah yang dimaksud luar biasa, sementara kita semata-mata menikmati sumber daya alam dengan biaya yang murah,” kata Deputi BKPM pada Tangerang, Jumat.
Diidentifikasi usai membuka jadwal “Forum Bisnis lalu Infrastruktur Kawasan Sungai Mekong” pada rangkaian Trade Expo Indonesi (TEI) 2024, Ichwan mengemukakan bahwa untuk menghindari dampak “kolonialisme baru” itu, negara-negara ASEAN harus berpindah sebagai satu kekuatan.
Negara-negara ASEAN patutnya saling berkoordinasi juga saling membantu di mengoptimalkan perkembangan sumber daya nasional lalu menguasai teknologi baru, ucap Ichwan.
Hal yang dimaksud adalah untuk menegaskan semua negara anggota ASEAN miliki daya saing serta kemampuan yang tersebut mirip di menciptakan nilai tambah melawan sumber-sumber daya di dalam pada negeri masing-masing.
“Harus ada Semangat ASEAN yang digunakan mencerminkan komitmen anggotanya berbuat sama-sama demi kebangkitan juga kemakmuran ASEAN,” kata dia.
Ichwan mengatakan, solidaritas ASEAN juga akan menghindari salah satu anggotanya yang dimaksud kurang berprogres mengambil inisiatif sepihak untuk “membuat perjanjian bebas dengan negara forward yang mana justru menguntungkan kepentingan negara maju juga merugikan negara-negara ASEAN yang tersebut lain.”
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Kamboja Santo Darmosumarto menyoroti salah satu dampak tiadanya solidaritas ASEAN adalah anggota-anggotanya akan rentan terhadap diskriminasi dagang dalam pangsa internasional.
“Kita harus dapat kembangkan solidaritas in bersama-sama lantaran kita berada ke sikap yang tersebut identik sebagai negara berkembang,” kata Santo.
Artikel ini disadur dari Deputi BKPM: Kuatkan solidaritas ASEAN demi cegah kolonialisme baru






