Transaksi QRIS Tumbuh 75,80 Persen pada Triwulan III 2026 Menurut Bank Indonesia

Pertumbuhan transaksi QRIS kembali menunjukkan perkembangan positif dalam ekosistem pembayaran digital Indonesia. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS meningkat 75,80 persen secara tahunan pada triwulan III 2026, mencerminkan semakin luasnya penggunaan metode pembayaran berbasis kode QR. Perkembangan ini menjadi perhatian penting bagi sektor Bisnis, terutama pelaku usaha yang mengandalkan transaksi cepat, praktis, dan mudah diakses pelanggan. Peningkatan jumlah pengguna dan merchant turut memperkuat posisi QRIS dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Meski demikian, pertumbuhan transaksi yang tinggi juga perlu dipahami bersama perubahan perilaku konsumen, kesiapan infrastruktur, serta tantangan keamanan pembayaran digital yang terus berkembang.
Kinerja Pembayaran QRIS Tumbuh Tinggi Sepanjang Triwulan Ketiga 2026
Bank Indonesia melaporkan bahwa transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS mengalami pertumbuhan sebesar 75,80 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Perkembangan ini diumumkan dalam siaran pers kebijakan Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026. Pencapaian transaksi tersebut menggambarkan peningkatan aktivitas pembayaran berbasis kode QR dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam kegiatan ekonomi digital, QRIS memberikan alternatif pembayaran nontunai bagi konsumen dan pelaku usaha. Perkembangan positif tersebut juga sejalan dengan semakin banyaknya pihak yang menerima QRIS, sehingga akses terhadap transaksi nontunai menjadi semakin luas di berbagai kegiatan ekonomi.
Perkembangan QRIS berlangsung bersamaan dengan peningkatan aktivitas pembayaran digital nasional. Pada triwulan III 2026, volume transaksi pembayaran digital secara keseluruhan mencapai 18,09 miliar transaksi atau mengalami kenaikan 39,24 persen secara tahunan. Volume pembayaran itu tidak hanya berasal dari transaksi QRIS, sehingga tidak boleh disamakan dengan volume QRIS saja. Dalam laporan tersebut, transaksi melalui internet payments bertumbuh 14,26 persen dan mobile payments mengalami kenaikan 45,55 persen secara tahunan. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa pembayaran digital menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat. Dalam perspektif perdagangan, kondisi tersebut memberikan alasan untuk memperhatikan kebutuhan transaksi konsumen yang mudah digunakan pembeli.
Membedakan Kenaikan Transaksi QRIS dan Total Pembayaran Digital
Laju pertumbuhan transaksi QRIS sebesar 75,80 persen menggunakan perbandingan tahunan. Dengan kata lain, indikator transaksi QRIS pada triwulan III 2026 dievaluasi menggunakan acuan triwulan III 2025, bukan berdasarkan perubahan harian. Pemahaman ini perlu diketahui karena angka 75,80 persen bukan berarti QRIS menguasai persentase tersebut dari seluruh pembayaran. Ukuran pertumbuhan tersebut menggambarkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dalam jangka waktu tertentu. Melalui pemahaman yang tepat, pengelola usaha dapat menilai perkembangan pembayaran digital tanpa mencampurkan indikator yang berbeda.
Kenaikan penggunaan metode QRIS juga belum tentu menunjukkan peningkatan nilai transaksi dalam besaran identik. Banyaknya aktivitas pembayaran dan total nominal pembayaran merupakan dua ukuran berbeda. Untuk memperjelas konsep, kenaikan transaksi pembelian bernilai kecil dapat memperbesar aktivitas transaksi tanpa menjamin peningkatan total uang dalam proporsi identik. Karena alasan tersebut, data pertumbuhan QRIS perlu dipahami dalam konteks sistem pembayaran. Dalam pengelolaan Bisnis, informasi seperti nilai rata-rata pembelian berguna dalam menganalisis aktivitas usaha secara lebih tepat.
Jumlah Pengguna dan Merchant QRIS Terus Bertambah
Perkembangan aktivitas pembayaran berbasis QR berkaitan dengan bertambahnya jumlah pengguna dan merchant. Berdasarkan laporan resmi bank sentral, jumlah pengguna QRIS pada triwulan III 2026 berada pada angka 70,6 juta, sedangkan jumlah merchant yang menerima pembayaran QRIS tercatat sebanyak 49,4 juta. Jumlah pengguna dan merchant tersebut menunjukkan luasnya ekosistem dalam aktivitas pembayaran digital nasional. Meluasnya jaringan pedagang pengguna QRIS memudahkan konsumen bertransaksi pada beragam kegiatan pembelian. Pada saat bersamaan, meningkatnya jumlah pengguna dapat mendorong pelaku usaha untuk mengadopsinya. Perkembangan kedua sisi ekosistem tersebut membantu memperluas penerimaan pembayaran.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, ketersediaan pembayaran berbasis QR dapat menjadi sarana mempermudah pelayanan tanpa bergantung sepenuhnya pada transaksi kas. Pedagang makanan, toko kebutuhan harian, dan penyedia jasa dapat mempertimbangkan QRIS untuk memperluas fleksibilitas transaksi. Namun, penerapan QRIS dalam operasional tidak secara otomatis meningkatkan omzet. Mutu barang dan jasa, harga, lokasi, serta pelayanan tetap memengaruhi keputusan pembelian. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, QRIS lebih tepat diposisikan sebagai fasilitas pendukung, bukan jaminan keberhasilan penjualan.
Peluang Pelaku Usaha Memanfaatkan Pembayaran QRIS yang Semakin Populer
Meluasnya adopsi QRIS di masyarakat membuka berbagai kesempatan bagi pelaku Bisnis untuk meningkatkan kemudahan transaksi. Pada kegiatan perdagangan sehari-hari, penyediaan metode pembayaran nontunai dapat meminimalkan proses penghitungan uang tunai. Untuk pedagang yang melayani pembelian harian, pilihan transaksi digital tersebut mendukung proses pembayaran yang lebih praktis. Meskipun memiliki keuntungan operasional, pengalaman penggunaan tetap ditentukan oleh koneksi internet, kesiapan aplikasi, dan kondisi layanan penyedia pembayaran. Sebagai langkah pengelolaan, pelaku usaha sebaiknya menyediakan prosedur pembayaran yang jelas agar pelanggan memperoleh pengalaman transaksi yang nyaman.
Di samping penyederhanaan transaksi, penggunaan QRIS berpotensi mempermudah pemantauan pembayaran apabila pemilik Bisnis melakukan rekonsiliasi pembayaran secara rutin. Informasi pembayaran elektronik dapat menjadi pendukung pembukuan usaha, terutama ketika aktivitas penjualan meningkat. Misalnya, pemilik kedai dapat memeriksa proporsi pembayaran digital terhadap transaksi kas untuk memahami kebiasaan pelanggan. Meski pencatatan digital membantu, catatan transaksi perlu dilengkapi informasi usaha lainnya. Biaya operasional, pembayaran yang belum terselesaikan, dan pengembalian dana perlu dicatat secara terpisah. Dengan pengelolaan yang disiplin, penggunaan QRIS dalam kegiatan usaha dapat lebih terasa dalam operasional.
Mengantisipasi Risiko Pembayaran Digital bagi Pedagang dan Konsumen
Meningkatnya aktivitas transaksi elektronik perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap potensi risiko pembayaran. Dalam operasional merchant, verifikasi status transaksi merupakan langkah penting. Petugas tidak sebaiknya hanya mengandalkan informasi pembayaran yang belum terverifikasi, karena bukti visual belum tentu menunjukkan transaksi berhasil. Sebagai prosedur yang lebih aman, periksa notifikasi dari penyedia pembayaran. Apabila transaksi belum terkonfirmasi, ikuti prosedur penyelesaian dari penyedia layanan. Prosedur pemeriksaan tersebut mendukung keamanan transaksi serta meminimalkan potensi perselisihan.
Dari sisi konsumen, perlindungan informasi pribadi perlu diperhatikan ketika menggunakan aplikasi transaksi. Ketika akan menyetujui transaksi, pengguna perlu memastikan identitas merchant dan jumlah uang yang akan dibayarkan. Kebiasaan verifikasi ini mengurangi risiko pembayaran ke penerima yang tidak sesuai. Di samping pemeriksaan transaksi, kode verifikasi dan PIN perlu dilindungi dari permintaan mencurigakan. Untuk pelaku Bisnis yang menggunakan QRIS, pemberian panduan operasional dapat membantu mengurangi kekeliruan. Dengan mengutamakan keamanan, kepercayaan terhadap layanan dapat terus dijaga.
Kesimpulan: Pertumbuhan QRIS Memperkuat Perkembangan Bisnis Digital
Peningkatan aktivitas pembayaran QRIS sebesar 75,80 persen secara tahunan pada triwulan III 2026 memberikan gambaran perkembangan transaksi nontunai berbasis kode QR. Laporan resmi bank sentral juga memperlihatkan jumlah pengguna mencapai 70,6 juta dan merchant sebanyak 49,4 juta, yang menunjukkan luasnya partisipasi QRIS. Bagi sektor Bisnis, perkembangan tersebut memberikan kesempatan memperluas pilihan pembayaran pelanggan. Meskipun adopsinya terus berkembang, penyediaan QRIS tidak langsung memastikan penjualan meningkat. Pertumbuhan pendapatan tetap memerlukan kualitas produk, pengelolaan keuangan, pelayanan pelanggan, dan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi usaha. Melalui analisis yang lebih menyeluruh, QRIS dapat digunakan untuk memperbaiki pengalaman transaksi secara lebih berkelanjutan.
Seiring perubahan kebutuhan transaksi, adopsi layanan transaksi nontunai berpotensi terus berkembang apabila keamanan transaksi terus dijaga. Pemilik usaha dapat terus memantau informasi dari penyedia resmi agar penggunaan QRIS sesuai ketentuan. Di samping kepatuhan operasional, evaluasi pengalaman pelanggan perlu dilakukan secara rutin. Pengelolaan yang disiplin membantu usaha beradaptasi dengan perubahan. Apa pendapat Anda, apakah penggunaan QRIS sudah mempermudah transaksi dalam transaksi yang Anda lakukan? Silakan bagikan pengalaman agar pelaku usaha lainnya dapat memperoleh wawasan tambahan.






